Wanita Sesuci Ibunda Maryam

Rabu, 25 Juni 2014

Jika kita lantunkan sebaris sebait ayat-ayat al-quran, maka kita akan temukan sebuah surat yang begitu indah namanya, yang teramat anggun asmanya. Adalah surat Maryam, surat ke 19 dari 114 surat yang tertulis dalam Al-Quran itu menjadi sepucuk surat cinta khususnya bagi kaum wanita.

Bagaimana tidak, sosok Ibunda maryam menjadi cermin yang jika tertatap oleh mata nafsu maka akan keluar ludah fitnah bahwa sang bunda adalah seorang pezina yang melahirkan putra tanpa seorang suami, bahkan lebih ngeri beliau dianggap sebagai ibunya Tuhan. Namun jika tertatap oleh mata iman maka akan keluar seriak takjub “Masya Allah”, betapa hebatnya kekuasaan Allah. Jika Allah berkehendak tiada yang tidak mungkin, wanita bernama Maryam itu adalah sesosok putri Hawa yang setiap kedipnya ibadah, yang setiap helainya Dzikrullah, dan yang setiap detiknya beramal soleh. Tak ada setitik pun sentuhan tangan lelaki yang bukan Mahromnya menodai kemewahan gaun kehormatannya. Ia terjaga, kesuciaannya bagai mentari yang tak ada satu ragapun sanggup menyentuhnya.

Tapi begitulah hidup, Walau sekuat apapun tancapan iman yang menancap dalam hati. Allah tak jaminkan tawa berlimpah bahagia meruah, dentuman dentuman ujian menjadi peperangan yang mempertemukan antara kesabaran dan keputus asaan. Lalu senjata bernama iman telah berhasil membunuh keputus asaan itu hingga sang bunda meraih kibaran kemenangan yang terkibar dalam tiang kesabaran.

Karunia tidak harus terbit dari ufuk nikmat, kadang ia terbit menyapa hari dari ufuk ujian. Dengarkan percakapan antara Jibril dan Ibunda Maryam yang tertakjub dalam Al-Quran.

19:18. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

19:19. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

19:20. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

19:21. Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”

19:22. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

Ayat-ayat diatas sedang membisikan betapa maha berkendaknya Allah, bayi suci terlahir dari rahim wanita yang jangankan berpengantin, tersentuh secucuk lelaki yang bukan Mahromnya pun ia tidak pernah, begitulah “Kun Fayakun” menjadi berbicara dalam kisah ini.

Tetapi manusia tetaplah manusia, kebanyakan menggunakan logika tanpa berdamping dengan iman. Maka yang terjadi sang bunda Maryam terfitnah sebagai wanita pezina. Fitnah dan caci maki itu terabadikan dalam Al-Quran.

19:27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

19:28. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

19:29. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”

Ibunda Maryam terdiam dan hanya menunjuk Isa yang terbaring hangat dipangkuan, bayi itu kembali memancarkan kemaha berkehendaknya Allah, sang bayi berbicara membela ibundanya.

19:30. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.

19:31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

19:32. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

19:33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Masya Allah, begitulah kisah indah yang tertulis dalam surat Maryam, ini menunjukan kesucian seorang bunda yang tak memiliki suami, tetapi sekali lagi. Allah maha berkehendak. Semoga kelak kita berkumpul bersama dengan wanita-wanita suci disyurga-Nya. Aamiin.

Duhai engkau wanita yang semoga hembusan kesucian Ibunda Maryam berhembus menyapa hidupmu, teladanilah beliau. Jangan sampai engkau yang seharusnya suci malah ternodai lelaki yang bukan kau panggil sebagai suami. Apalagi hanya atas nama topeng cinta yang didalamnya berwaja birahi. sayang sekali.

Duhai engkau Wanita, yang namanya tercantum sebagai salah surat dalam Al-Quran...
Lihat sejenak wajahmu !, engkau begitu cantik, betapa indahnya Allah menciptakanmu, pancaran wajahmu bagai senja yang sedang tersenyum menyambut malam, cahaya ragamu bagai mentari yang sedang berdendang menyambut siang. Renungilah, betapa sayangnya kecantikan parasmu jika dipandang sembarang lelaki, betapa sayangnya keindahan ragamu jika disentuh sembarang pria. Engkau yang kelak menjadi permaisuri dikerajaan kecilmu, haruskah mengatakan kepada suamimu bahwa ragamu pernah tersentuh lelaki lain ?, haruskah kelak anak-anakmu tahu bahwa ibunya pernah digandeng pria lain ?, Maka rawatlah kesucianmu, maka rawatlah kehormatanmu, agar bidadaripun cemburu padamu.

Duhai engkau Wanita, yang namamu kelak akan bergelar menjadi seorang ibu, pahamilah !, setampan apapun lelaki yang kau sukai, sebaik apapun lelaki yang kau cintai, atau segagah apapaun lelaki yang kau sayangi, selama ia belum menjadi suamimu maka jangan biarkan matanya terlalu lama menatapmu, jangan biarkan tangannya dengan mudah menyentuhmu, dan jangan biarkan perhatiannya kau dambakan selalu. Ia bukan siapa-siapa untukmu, ia hanyalah orang asing yang jika kau biarkan terlalu lama bertamu diruang hatimu, ia akan menghancurkan anggunnya kehormatanmu, maka sekali lagi.. rawatlah !, rawatlah kehormatanmu !, biarkan hanya dia yang bermukim abadi diruang hatimu, dia siapa ? dia.. seorang lelaki yang bernama “suami”.

Tengoklah wanita yang namanya terabadikan dalam Al-Quran. Najasyi, para uskup Habsyah dan semua tertakjub dengan wanita. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang kehormatannya terawat, ialah Ibunda Maryam.

Namun dizaman sekarang sebenarnya juga banyak wanita yang melahirkan tanpa seorang suami, tetapi bukan kembaran kisah ibunda Maryam. Tetapi memang meraka melakukan perzinahan yang sungguh hati ini bergetar ketakutan saat mengetahui hukuman bagi para pezina.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (QS. an-Nur: 2).

Dari Ubadah bin ash-Shamit radiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ambillah dariku. Ambillah dariku. Allah telah meletakkan jalan untuk mereka. Jejaka dengan gadis cambuk seratus kali dan pengasingan selama setahun. Laki-laki yang sudah menikah dengan wanita yang sudah menikah adalah rajam.” (HR. Muslim).

Itu didunia yang memang disebagian negara belum menggunakan hukum ini, padahal Allah hendak menjaga kesucian Wanita.

Maka duhai wanita, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isro':32)”. Jika memang cinta menjadi faktor perzinahan, Allah telah sediakan hadiah bernama pernikahan agar tak terjerumus kedalam nistanya lembah perzinahan.

Duhai putri Hawa !, Jika saat ini engkau masih sendiri, atau masih merindukan sang pangeran datang menjemputmu dengan kereta kudanya, atau memang memilih untuk sendiri karena trauma dengan sakitnya sayatan penghianatan, atau memilih sendiri karena takut jika jodohmu tak seindah mimpimu, dan atau memang ragu untuk bersama dalam mahligai cinta bernama keluarga.

Dengarlah sejenak nasihat ini !

Jika kesendirianmu tersemat karena Allah maka itu lebih baik, seperti Siti Maryam ibunda Isa yang dengan kesendiriannya mampu menulis prasasti kebaikan dalam hidupnya, cahaya kehormatannya selalu terpancar sebab tak pernah ada secuil pun sentuhan kotor dari lelaki yang bukan Mahromnya. Siti Maryam sendiri namun kehormatannya selalu terjaga bak mentari yang selalu menjaga siang agar tak tercuri oleh malam.

Namun pertanyaannya... Mampukah kesendirianmu seperti kesendirianya Siti Maryam ?, saya kira hatimu sudah berbisik jujur bahwa engkau tidak mampu. maka jangan biarkan engkau terlalu lama sendiri hingga rintikan dosa mengguyur helai nafasmu. engkau tak kan bisa bertahan saat sosok gagah lelaki terpandang disorot matamu, engkau tak akan bisa bertahan saat sosok sholeh lelaki mencuri hatimu, dan engkau tidak akan bisa bertahan saat wanita disekelilingmu sudah dipanggil ibu oleh anak-anaknya, dan terpanggil istri oleh suaminya. Ku yakin walau engkau merasa kuat pasti akan ada saatnya engkau benar-benar tak mampu bertahan dalam kesendirian.

Sekali lagi sendiri itu lebih baik jika itu akan menuntunmu menuju syurga-Nya, namun wanita syurga akan menjadi ratu, dan ratu selalu memliki raja, dan raja selalu laki-laki. ini hanya anekdot saja, "engkau tak akan menjadi ratu jika tak bersanding dengan raja"

Duhai putri Hawa, Jika engkau belum siap menabur cinta ditaman pelaminan, maka sendirilah... !, jangan biarkan wajahmu terpandang sembarang lelaki, jangan biarkan tanganmu tersentuh semabarang pria. jangan biarkan tubuhmu terpeluk sembarang raga. Belajarlah menjaga sucinya gaun kehormatanmu.

Dan jika engkau sudah siap merajut asmara cinta dalam bingkai pernikahan, segerakanlah !, terima lamaran lelaki soleh walau engkau belum mencintainya. karena lelaki soleh dengan kebaikannya akan membuatmu jatuh cinta.
Adalah ia, wanita suci yang kelak menjadi madrasah cinta bagi anak-anaknya, menjadi telaga kasih bagi suaminya.

Kesantunan rangkai ucapnya, ketaatan bingkai lakunya, dan kebaikan helai akhlaknya menjadi firdaus yang keindahanya tak sanggup tertembus oleh mata, ia tertembus oleh hati hingga melahirkan senyuman dari rahim cinta.

Adalah ia, wanita suci yang menghidangkan cicipan-cicipan syurga sepagi sepetang bagi raja tergagah bernama suami, sesiang semalam bagi prajurit kecil bernama anak-anak.

Setiap tuturnya menjadi melodi menyejukan, setiap gerak lakunya menjadi irama menghangatkan, dan setiap akhlaknya menjadi istana membahagiakan.

Sudahkah ?, sudahkah engkau menjadi wanita yang kesuciannya terjaga ?.

Sudahkah ?, sudahkah engkau menjadi wanita yang kesuciannya terawat ?.

Semoga kesucian Ibunda Maryam menjadi teladan untukmu, hingga kelak engkau “cipika cipiki” dan berpeluk mesra dengan beliau disyurga-Nya Insya Allah.

Senyum Wanita Setelah Islam




Wanita sebelum islam bagai terluntang lantung digurun sahara, tak ada tempat ternyaman untuk berteduh. Ia hanya berteman sengat derita dan tusuk duka, ia hanya bersahabat panas hina dan dingin dina, lalu wanita itu menemukan serindang pohon diujung hampar pasir. Betapa bahagianya saat sang bahagia itu memeluk mesra, islam hadir sebagai tangan yang mengulurkan wanita-wanita tergeletak diperbaringan derita. Dan syukur berucap Hamdallah,Cinta itu merekahkan kembali senyum yang telah lama terusir. islam adalah cinta, dan cinta adalah islam.
 Ada yang berucap tanya, mengapa dalam Al-Quran tersamudera ayat yang mensepesialkan kaum laki-laki ?, mengapa jarang tercantum perintah terkhusus bagi kaum wanita ?, maka biarlah Al-Quran Surat Al-Ahzab Ayat 35 menjawab hangat tanya itu.
Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuanyang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (asma)  Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 33:35)
Maka benar adanya, islam tidak membeda-bedakan laki-laki dan wanita, Apapun jenis kelaminnya, jika melakukan gerak kebaikan dan langkah ketakwaan akan sama-sama tertabur bunga pahala dan tersemat mahkota ampunan.
 Wanita tak terpisahkan dari belahan laki-laki, yang membedakan adalah seberapa banyak ketakwaan tertabung, seberapa banyak kebaikan terinvestasi. Bahkan islam “mengomeli” kaum laki-laki agar berucap santun, agar berlaku lembut, dan berakhlak mulia kepada wanita. “Mukmin tersempurna imannya adalah yang terbaik akhlaqnya. Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik memperlakukan Wanita.” (HR At Tirmidzi). Sungguh hangat pelukan tulus seayat, sewahyu dan sehadist yang menjadikan wanita diberikan hak untuk meloncat bergirang bahagia.
 Lho, tapi kan yang pertama harus ditaati wanita adalah suaminya ?, bukankah suami itu laki-laki ?, iya iyaaaa, tetapi yang  pertama harus ditaati laki-laki dalah ibunya, bukankah ibu itu seorang wanita ?. seperti itulah islam menata taman kehidupan dengan keselarasan, agar antara laki-laki dan wanita bisa bersanding bergandeng untuk memperindah lukisan hidup.
 Jika kaum laki-laki harus berperang Fii Sabilillah guna memikat Syahid, maka kaum wanita dengan fitrahnya bisa menjemput syahid dengan belai kemudahan. “Wanita hamil, melahirkan, menyusui, menyapih; mendapat pahala seperti terluka di jalan Allah. Mati di masa itu syahid. (HR Ibn Al Jauzy)”.Inilah hadiah istimewa bagi kaum wanita, yang kesempatan syhidnya melaut, menyamudera, dan melangit. Luas sebegitu luas.
 Setiap Makhluk bernama manusia adalah pemimpin, laki-laki tertugas memimpin keluarga dan wanita tertugas memimpin rumah tangga, kedua tugas yang terpikul dalam punggung kehidupan itu akan dimintai pertanggung jawaban. Walau berbeda namun kepemimpinan keduanya akan tervonis syurga atau terketuk neraka, tergantung bagimana mengelola kepemimpinan masing-masing dengan tangan ketulusan, dengan segerak keikhlasan. Maka jelaslah sudah keadilan islam,  bahwa semasing sebeda antara kaum laki-laki dan wanita akan tetap diminta pertanggung jawabannya.
 Laki-laki dan wanita memang sama ditatapan Allah, namun keduanya memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Bukan maksud untuk mendiskriminasi, tetapi perbedaan itu adalah untuk saling melengkapi. Tiadalah kita berjumpa siang jika sebelumnya tidak berjumpa malam, tiadalah kita memandang pelangi kalau sebelumnya tidak mencucur hujan, atau tiadalah kita  melihat ombak kalau sebelumnya tidak menggemuruh angin. Begitulah, perbedaan adalah jembatan menuju persamaan, karena didalamnya tertapak keselerasan.
 Hukum mengucap talak terucap dari lisan laki-laki, itu karena wanita lebih menonjolkan emosional ketimbang rasional. Islam tak inginkan salah ucap menjadikan penyesalan hanya karena tengokan emosional yang sebentar menyapa. Hal ini benar adanya, seperti tertimpa reruntuhan masalah, Wanita lebih memilih untuk berbagi, lebih ingin didengarkan, lebih rindu dimengerti. Sedang Lelaki selesaikan dengan cara menyendiri, kontemplasi, lalu sibuk rumuskan solusi. Perbedaan keduanya agar tercipta harmoni. Begitulah islam mengatur semesta dengan keadilan tanpa ujung, dengan keselarasan tanpa batas. Serindang cinta.
 Lalu terzholimikah wanita jika pendapatan warisnya lebih kecil daripada laki-laki ?, tidak demikan duhai sahabat, Laki-laki memiliki beban tanggung jawab yang lebih berkilo ketimbang wanita, tanggung jawab terhadap Ibunya dan saudari perempuannya yang mewakili sebagai wali, jadi pembagian waris yg lebih besar itu karena untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan tanggung jawab nya sebagai wali.
 Juga, Ketika seorang laki laki membangun sebuah rumah tangga, laki laki itu memiliki kewajiban memberikan nafkah bagi keluarganya. Jadi kalaupun laki laki diberi hak harta 2 kali lebih besar, karena pada akhirnya dia berkewajiban menafkahi. Sedangkan perempuan tidak memiliki kewajiban menafkahi dalam membangun rumah tangga. Keadilan di dalam islam tidak sesempit setipis mengukur hartanya saja, tapi adil dalam membagi sekanan hak dan sekiri kewajiban, supaya aturan secara keseluruhan menjadi adil adanya. Itulah sebentuk keselarasan yang diperkenalkan islam agar pemeluknya tersenyum dalam rekah bahagia. Ketika keadilan membersamai seyum itu.
ebelum kedatangan Islam, orang Arab menikahi banyak wanita, bahkan ada yang sampai ratusan. Islam datang dan memberi batasan, seorang pria hanya boleh menikahi maksimum empat wanita dengan syarat dia dapat berbuat adil terhadap keduanya atau ke-empat istrinya. Jika tidak, maka satu saja. “Menikahlah wanita pilihan Anda, dua, atau tiga, atau empat, tetapi jika kamu takut
kamu tidak akan mampu menangani adil (dengan mereka), maka hanya satu. (QS. Anisa:03
].
Jadi sebenarnya poligami itu adalah pengecualian, bukan peraturan yang menganjurkan untuk laki-laki menikahi wanita lebih dari satu. Begitulah islam memjadikan makhluk si wanita itu yang agar hadirnya dibelai dengan sentuhan keadilan, jika ayat itu tidak tersapa maka jelaslah laki-laki akan memperlakukan wanita dengan semena-mena, menikahi seratus seribu atau sejuta wanita, tanpa batas.
 Populasi dunia perempuan lebih dari penduduk laki-laki, Rata-rata rentang kehidupan perempuan lebih banyak daripada laki-laki, mungkin itu hanyalah dua dari sekian banyak alasan mengapa hanya laki-laki yang berhak memiliki lebih satu pasangan. Tetapi berbicara islam adalah berbicara solusi, manusia hanya memperalat akal dengan mesin birahi , sehingga dengan kebodohannya sibuk menceri celah untuk  mengkampanyekan keburukan islam. Llau islam hanya sibuk membuka pintu solusi bagi setiap kunjungan tamu bernama masalah.
Sebenarnya masih banyak pertanyaan tentang yang katanya islam tidak adil bagi kaum wanita, namun pada kenyataannya, wanita setelah islam lebih banyak tersenyum ketimbang wanita sebelum islam. Inilah agama nan suci , kebenarannya sulit terbantahkan. Islam melukis wajah wanita dalam kanvasnya dengan kuas keadilan, sesamudera kasih, sepelangi cinta. Seutuhnya.   

Tangis Wanita Sebelum Islam




            Duhai engkau wanita yang terlahir setelah islam, berbahagialah engkau dilahirkan saat oase keadilan mengusir dahagamu. karena bagaikan serintik hujan, sepercik air, islam telah mensemikan wanita yang kala sebelumnya terluntang lantung digurun derita, ia tersengat panasnya siksaan yang tak ada satupun peneduh memeluknya, ia tertusuk dinginnya direndahkan . Wanita sebelum islam menangis dalam duka yang sungguh akan keluar air mata kesedihan saat pilunya terceritakan.

            Coba perhatikan bagaimana peradaban Yunani mengasuh wanita dalam timbang belai ketidak adilan, saat itu kaum wanita dianggap sebagai makhluk kedua, kehormatannya terinjak-injak kaki bertapak birahi, kemuliaannya tercabik-cabik tangan berkepal nafsu hakiki.

 Wanita pada zaman itu dianggap tiada berguna, tugasnya hanya mengurus rumah dan mensuburkan keturunan. Jika wanita itu subur agar “dipinjam” lelaki secara bergonta-ganti demi memperbanyak keturunan. Wanita kala itu hanya dijadikan budak seks dan pembantu setia kaum laki-laki. Sungguh malang bukan ?, maka duhai engkau wanita masa kini, Selayaknya engkau tersenyum haru karena terselamtakan islam dari pasung ketidak adilan.

            Coba perhatikan lagi tangis wanita yang terlahir di zaman Romawi, ia diperlakukan sebagai barang dagangan. Ayahnya, suaminya, dan atau anaknya berhak menjual wanita, ia sama sejajar dengan hewan, ia sama sebaris dengan benda. Kala itu wanita dianggap sebagai air yang menghilangkan dahaga syahwat kaum laki-laki,  kebetinaannya menjadi seserak sampah yang siapapun dapat memungutnya dengan tangan-tangan nafsu.

            Tak berhenti disana, pukulan-pukulan ketidak adilan membabak belurkan kemuliaan kaum wanita saat itu, ia tak boleh tertawa ceria, pekerjaan terbaiknya hanya diam tertunduk. Melayani raja-raja bernama laki-laki yang tinggal diistana birahi. Bahkan tertulis dalam undang-undang yang dikeluarkan oleh anggota Dewan Tribunal Romawi yang mengharamkan wanita memiliki lebih emas, dan memakai baju berwarna warni serta menaiki kereta hingga sejauh satu batu dari Roma, kecuali perayaan-perayaan umum yang tertentu. 

            Bahkan jika wanita ditinggal mati suaminya, sang wanita harus “menyusul” mencari kematian, ia loncat dari tebing tertinggi, atau membakar raga bersama suaminya yang sudah terbaring tanpa nafas. Sungguh hati ini miris membaca kemalangan wanita pada zaman itu. Maka duhai engkau wanita yang terlahir dimusim yang disemikan islam, hendaknya engkau bersujud syukur, engkau dengan bebas dapat tertawa dalam gelak bahagia. Sungguh islam hadir sebagai selimut yang menghangatkan dinginnya ketidak adilan.

            Selanjutnya coba kita tengok gubuk derita kaum wanita yang tinggal dizaman Jahiliyah Arab, kekejaman yang menjambak kaum wanita kala itu tertuliskan dalam Al-Quran
.
 “Dan apabila seseorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah.  Surah An Nahl : Ayat 58

“Ia menyembunyikan dirinya dari orang ramai disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan atakah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup), ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”  Surah An Nahl : Ayat 59

Begitulah zaman Jahiliyah Arab yang menjadikan wanita sebagai makhluk menjijikan, bayi yang terlahir namun jenisnya wanita harus terkubur hidup-hidup, kebejatan yang dilakukan itu hanya demi semurah harga diri. Mereka menganggap aib memalukan jika terlahir makhluk bernama wanita.

Selain kisah penguburan anak-anak wanita kala itu, sang putri hawa yang seharusnya terteduhkan rindang cinta dan kebaikan, malah dijadikan hamba seks, ia layak dan harus melakukan apa saja diatas perintah kaum laki-laki, ia tidak memiliki secuil pun hak-hak kemanusiaannya, bahkan hak untuk tersenyum sekalipun.

Sungguh air mata ini selalu meminta tuk menetes jika membaca sejarah zaman Jahilyah Arab yang menjadikan wanita sebagai manusia terhina.

Maka duhai engkau wanita yang terlahir setelah terbitnya islam, hendaknya mengucap “Alhmdulillah” atas sinarnya yang telah mengusir gelap kebodohan dan gempita ketidak adilan. Islamlah yang menciptkan senyuman untuk kaum wanita. Sepeuhnya, seutuhnya.  

Bangun.. Banguuuuuun !

Selasa, 24 Juni 2014
Hadeeeeeh.... Gimana mau bangun rumah tangga, bangun pagi aja susahnya pake banget

Udah dech, jangan ngegombal hujan deras akan kulalui, lautan luas akan kesebrangi, dan gunung tinggi akan kudaki.

Emang bisa ?, bisa kok !..... Ahh Masa sih, ngangkat selimut yang ringan aja kagak bisa

Ehmm... Pagi adalah sebuah berkah yang indah, mereka yang melewatinya karena tersesat dialam tidur, hakikatnya sedang membuang logam mulia. Ia merugi dengan tangannya sendiri

Cintai Allah Seluar Biasa

Jangan jadikan manusia sebagai muara cita-cita. Awalnya ia memuja berjuta cinta, tetapi terkadang akhirnya menghina berjuta dina.

Selagi ia masih bernama manusia, hatinya tetap akan berbolak balik. sepagi baik sepetang jahat, sesubuh soleh sesenja bebal, semalam santun sesiang kasar.

Banyak yang dulu kau puja puji, bermesra hangat, bersama semangat. tetapi sekarang hujat menghujat, berhina ria, bermusuhan lama. dialah mantan.

Sudah yah...., cintai manusia sebiasanya saja. lalu cintai Allah seluar biasa selalu.

Pesan Sang Cicak

Bagimu yang masih ketakutan tidak diberi rizki, perhatikanlah seekor cicak. Ia hanya mampu merayap tetapi rizkinya bersayap, ia hanya mampu melahap didinding tetapi rizkinya terbang bebas diruang. ia harus memakan nyamuk yang kita pun butuh obat nyamuk untuk membunuhnya.

Tetapi tak ada cicak yang mati kelaparan, sebebas apapun terbang seekor nyamuk pasti Allah arahkan untuk mendekati si ciciak, "HAP LANGSUNG DITANGKAP", begitulah Allah memberi rizki.

Maka tak usah takut, Allah pasti menyediakan rizki untukmu. tetapi ingat, banyak cicak yang mati terpejit pintu... itu dikarenakan ia tidak mau bergerak.

Maka mereka sulit menemukan rizki terbaiknya jika hanya terdiam tak bergerak.

Kesusahan akan tetap menjepitnya, bergeraklah !

Sahabat Sejati

Jika kau punya teman, ia tahu persis aibmu, ia paham betul jelekmu. Tetapi ia tak sebarkan ke telinga orang lain. Ia hanya menasihati dengan bijak, bahkan nasihat itu ia sampaikan diruang tersembunyi, bukan dikhalayak ramai.

Walau mudah membongkarnya, aib dan kejelekanmu tetap tersimpan diruang rahasia, tak pernah ia umbar.

Maka teman seperti itu, Layak dianugerahi gelar "sahabat sejati"