Allah Bersama Kita

Senin, 09 Maret 2015
"Ummi," tanyaku, "Kenapa ya, kok dunia seakan jahat banget? Rasa sepi, penghianatan, kebencian, bahkan luka dan kesedihan selalu menghampiriku."
"Nak, " kata Ummi, "Ummi tidak tahu, yang ummi tahu, Allah selalu bersama kita."
Rabbi, segala puji bagiMu 

Allah, Ampuni

Setiap hari, saat bincang ghibah yang dilontarkan, saat waktu shalat ditunda-tunda, saat diri sibuk bercanda dengan dia yang bukan mahram.
Ah, saat itulah aku sadar, dosa ini semakin menumpuk, maksiat ini semakin berlapis.
Allah, apakah Engkau mengampuniku?
Anda saja aku adalah Allah, tak sudi aku mengampuni kelakuanku ini.
Tapi itulah mengapa, Allah adalah Allah, dan aku adalah aku.
"Jangan bersedih," kata al Qarni, "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun."
Rabbi, ampuni :')

Karena Wanita Ingin Dimengerti

"Putraku," kata ummi, "Kamu jangan egois, menunggu ungkapan perasaan dari seorang perempuan padamu."
"Karena ketahuilah putraku, tentang perasaan, perempuan itu lebih mudah ber-isyarat daripada berkata- kata."
"Harusnya kamu tahu itu nak! Perempuan Allah lindungi dengan rasa malu, apalagi untuk hal yang berhubungan dengan perasaan."
"Jadi sekali lagi putraku, jangan pernah menunggu perempuan untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya, kamu harus mengerti isyaratnya."
"Mungkin, itulah salah satu alasan kenapa perempuan lebih suka laki-laki yang pengertian; agar hidupnya jauh lebih dimudahkan."

Teringat Mantan?

"Mas Aby," seorang akhwat meng-inbox, "Kenapa yah, kok aku selalu teringat dengan mantan pacar, padahal aku sudah menikah."
"Entah mengapa," lanjut si akhwat, "Aku merasa biasa-biasa saja saat suamiku memberi perhatian. Tapi kok! Kalau mantanku yang memberi perhatian, walau sekedar menanyakan kabar, aku amat girang, bahagia rasanya."
Astaghfirullahal 'Adhiim, saya belum menjawab pesan itu, saya hanya bergumam...
"Tuh kan ane bilang juga apa, pacaran itu banyak madharatnya. Bukan, bukan masalah jadian, lalu bebep-bebepan, lalu putus, lalu galau, gantung diri deh di pohon toge."
Sekali lagi bukan hanya itu masalahnya, tapi kenangannya itu lho yang bikin resek, sulit dihilangkan.
Oleh itu, pacaran selalu dimulai dengan pengorbanan dan diakhiri saat ada korban. Sebelum Anda menjadi korbannya, baik kiranya diakhiri sekarang.
Oh ya, 'afwan yang nge-inbox tadi, jawabannya dibaca di buku saya aja yah, Nikmatnya Bersabar dalam Penantian, segera. Ini lagi ditulis.
Bukan somse ndak mau jawab yah, kalau sama mantan pacar aja anti Ge-er. Lha apalagi dapat balasan inbox dari Lee Min Hoo (Sambil ngaca) ha ha grin emotikon

Menangislah

Menangis tak menyelesaikan masalah?,"
Kata siapa?, bagiku, air mata adalah bagian dari seorang insan. Sebab rerintik air mata adalah utusan hati tuk menyampaikan segala rasa. Baik luka maupun bahagia.
Seperti seorang ibu, tangisnya memecah saat mendengar tangisan bayinya yang baru lahir. Tangisan itu, bukan berarti kesedihan, kan?
Oleh itu menangislah! Tidak apa-apa, jika itu bisa membuat segala duka menjadi ringan terasa.
Air mata adalah bagian dari kita sebagai manusia.
"Putraku," kata ummi, "Jika kelak kau memiliki istri, lalu kau temui istrimu terseguk dalam tangisan. Usah kau menghapusnya, sebab seorang wanita, sesungguhnya tidak membutuhkan tangan tuk menghapus derai air matanya. Ia, seorang wanita, sebenarnya sedang membutuhkan bahu tuk bersandar, menemani rintik demi rintik air mata yang menghujan."
"Seperti ayahmu nak," kenang ummi, "Beliau, kalau ummi menangis, tak pernah menghapus air mata ummi, beliau hanya membelai rambut ummi, lalu mendekap erat. Tak terasa, ummi pun terlelap dalam kehangatan cinta."
"Ummi," saya menyela pembicaraan, "Di manakah tempat paling nyaman saat ummi menangis?"
Dengan senyum kecil ummi menjawab, "Di bahu ayahmu nak,"
Oleh itu, menangislah.... lalu setelah hujan tangismu reda, pastikan pelangi senyum membundar di keseharianmu.
Oh yah, saya juga sering menangis lho!
Yang bener Mas Aby? Kapan?
Ituuu.... waktu ditanyain kapan nikah, Hiks hiks... nyesek tahu! He he... grin emotikon

Ibu

bu; saat kita melempar ia dengan bebatuan luka; ia balas dengan menjantuhkan bebuahan cinta.
Ibu; kasihnya adalah angin, menghembus setiap saat; walau kita tutup dengan jendela kedurhakaan; ia tetap menyusup melalui sela-sela kecil, tuk tetap hembuskan kasih sayangnya.
Ibu; cintanya seperti kayu, rela dibakar dengan kelelahan; agar sang kayu mengunggun lalu menghangatkan sang putra.
Ibu; satu kata berjuta cinta. Darinyalah, bumi senantiasa melahirkan manusia.
Duhai burung, izinkan aku meminjam sayap-sayapmu. Aku ingin terbang mengitari cakrawala tuk mencari mutiara, sebagai hadiah bagi ibuku.
"Tidak nak, Ibu hanya ingin satu hal saja darimu."
"Apa itu bu?"
"Jadilah engkau dengan keshalihanmu, menjadi perahu tuk ibu tumpangi, agar bisa berlabuh di keridhoan Ilahi."
Ibu; seandainya seluruh manusia di dunia, dari Adam sampai sekarang berkumpul, lalu semuanya mengucapkan kalimat 'Terima Kasih'
Niscaya itu semua hanyalah setetes balasan yang diambil, dari samudera pengorbanan seorang ibu.
Ibu, terima kasih. Ibu, maafkan...

Jaga Hafalanmu Ya Nak!

Hari ini, saya mengantar dek Mukhlis untuk lomba tahfizh Quran... Alhamdulillah, anak usia 10 tahun ini sudah hafal 5 Juz.
Ia, menjuarai lomba tahfidz tingkat kabupaten itu. Saat masing-masing para pemenang naik ke panggung untuk menerima hadiah. Masing-masing mereka, juara dua dan tiga didampingi orang tuanya.
Hanya dek Mukhlis, juara pertama hanya seorang diri.
"Ustadz," katanya, "antar Mukhlis ke panggung yuk!,"
"Ayuk sayang, tapi orang tua Mukhlis kemana?"
Dengan senyum sambil menunduk ia berkata, "Mereka sudah bercerai ustadz."
Saya tidak menjawab, saya langsung memeluk Mukhlis dengan erat.
"Nak, jaga hafalanmu yah!" kataku sambil mengelus pundaknya.