"Memaafkan sambil membuatnya menyesal"

Sabtu, 28 Juni 2014
Engkau yang hidupnya terhianati, mengertilah bahwa sebentuk apapun rasa perih akan mengenalkanmu pada rasa manis. Jangan kau balas... Harusnya engkau berterima kasih, kerena ia telah bersedia membuka topeng muslihatnya dengan tangannya sendiri.

Jika kau terluka jangan sibuk membalas, tetapi sibuklah mengobati. Jika kau sibuk membalas maka luka itu akan bernanah lagi bengkak. Seperti orang yang jarinya luka tertusuk tapi dibiarkan membusuk; diajak jabat tanganpun dia mengaduh jerit, dielus sayang pun dia mengerang sakit.

Maka sembuhkan lukamu dengan senyum memaafkan, sulit memang... tapi itulah cara untuk menyelam sambil meminum air. "Memaafkan sambil membuatnya menyesal"

Ya rabb, luluhkan hati ini agar mudah memaafkan sesama | Aamiin

Doa Malam ini

Doa Malam ini

Ya Allah, saya yang masih sendiri namun belum siap menikah. Maka ajari hamba untuk meng-Anggunkan kesendirian ini, lejitkan semangat belajar, kobarkan bara ikhtiar, kepakan sayap kebaikan. Agar pada saatnya nanti, jodohku membanggakan kesuksesan lahir bathinku.

Ya Allah, saya yang masih sendiri dan ingin segera menikah. Maka ajari hamba menjemput sang kekasih dengan senyum ridho-Mu, jangan biarkan hati ini jatuh cinta pada indahnya wajah, sungguh keindahan wajah akan terpudar termakan waktu. Dan jangan biarkan jiwa ini jatuh hati pada limpahnya harta, sungguh kelimpahan harta akan tercuri kematian.

Ya Allah, saya yang sudah menikah namun pasanganku kurang baik. percikanlah siraman cinta pada gersangnya sahara keluargaku. Jika percekcokan ini adalah salahnya maka ajari ia dengan bingkai ayat-ayatMu, namun jika ini adalah salahku sendiri maka tegurlah aku dengan sapaan hidayahMu.

Ya Allah, saya yang sudah menikah dan pasanganku amat baik. jadikan kebahagiaan ini adalah setapak barakah, yang antarkan kami ketaman sakinah, disana berjajar bunga-bunga mawaddah, lalu sicantik kupu-kupu rohmah terbang mensenyumi.

Ya rabb, hidangkan hamba dengan kelezatan ridho-Mu

Berqoulan Sadiida

Sebagai seorang Guru atau orang tua, terkadang "Qoulan Sadiida" hendak diamalkan.

Saat berkata, "Hey jangan bolos, Allah gak suka lho sama anak yang bolos", sebenarnya siapa yang tidak suka ?, kita atau Allah ?. tanpa sadar dengan ucapan itu kita sudah mencecoki anak dengan pikiran bahwa Allah maha tidak suka. "Ini Allah kenapa sich, dikit dikit gak suka, dikit dikit gak suka", Anak akan mudah bersu'uzhon kepada Allah.

Saat berkata, "Tuh kan nilainya kecil, kamu sih malas belajar", perkataan semacam itu akan membuat si anak berusaha terus menerus menyalahkan sesuatu, kalaupun ia rajin belajar tapi nilainya tetap jelek, ia tidak akan memahami tawakal, ia akan berkata "Tu kan nilai saya kecil lagi, gurunya sih gak bener ngajarnya", ia akan sibuk menyalahkan bukan intropeksi.

Terlalu dimanja juga salah, "Udaaaah, nilai kecil gapapa, nanti bisa besar ko", mungkin maksud kita agar anak tidak sedih, tetapi taukah ucapan itu akan membuatnya lemah, segala sesuatu yang belum ia selesaikan akan diakhiri dengan ucapan "Ah Sudahlah, nanti juga...." ia tidak akan paham fungsi Ikhtiar.

Semoga Allah menuntun lisan kita, agar benar dalam bercakap, agar baik dalam berucap, Berqoulan Sadiida (perkatan yang benar)

Sejantan Salman dan Sejujur Ummud Darda

Duhai Lelaki renungilah kata-kata ini.....

Jadilah engkau lelaki sebijak Salman Al-Farisi, ia tak paksakan wanita yang dicintainya untuk membalas mesra perasaan cintanya, saat ditolak Ummu Darda ia tetap mensenyum tulus, ia tetap membahagia ikhlas.

jika sang pujaan hendak menolakmu dan memilih lelaki lain ucapkanlah....

"Terima kasih ukhti, aku lebih suka melihat engkau bahagia kerena bisa menolakku, daripada melihat engkau menderita kerena terpaksa menerimaku"

Duhai Wanita renungilah kata-kata ini....

Jadilah engkau wanita sejujur Ummud Darda, ia menolak lamaran lelaki sesoleh Salman Al-Farisi, penolakan bukan karena birahi memandang yang lain lebih tampan atau kaya. Tetapi ia menyampaikan bahwa berbicara jujur meski menyakitkan lebih baik daripada berbicara bohong meski membahagiakan.

Jika tak menyukainya jujurlah mengucapkan...

"Maaf Akhi, mungkin Allah hendak mempersiapkan wanita yang lebih baik dari ana, semoga penolakan ini tidak mencerai beraikan pesaudaran kita, ana harap antum memaklumi dengan senyuman ketulusan"

Saat Cinta Terjatuh

Saat hati terjatuh dalam sandungan cinta, mungkin lebih baik berpisah sementara. Menyendiri seperti kepompong, memperbaiki, memantaskan diri, manata hati. Agar saat tiba waktunya, cinta itu akan tersemi mensenyumi dunia, lalu sakinahnya dirindui syurga.

Adalah fitrah seseorang jatuh cinta, tetapi jika belum siap ungkapkan lewat deklarasi halal maka tengoklah mentari. ia begitu mencintai bumi, tanpa pamrih ia sinari sepagi sampai sepetang, seembun sampai sesenja. Tetapi bijaknya, sang mentari tidak berani mendekati bumi, ia faham jika mendekat hanya akan membinasakan sang bumi yang ia cintai.

Seperti shaum, kesabaran itu menanti berbuka, nikmat saat hidangannya tersantap raga yang dahaga. Begitupun, menanti cinta yang halal adalah kesabaran, lalu berbuka dengan cicipan pelaminan akan terbitkan bahagia dari ufuk senyuman, serindang cinta

Terkadang Menangis itu Memang Perlu.

Hari ini aku mulai tersadar, bahwa terkadang menangis itu memang perlu.

Seperti menangis dikala menjumpai dosa diri yg sudah menyamudera. Seperti menangis dikala bakti pada orang tua telah mensemut. Seperti menangis dikala umur semakin merambat menuju kematian.

Saya justru heran, kenapa sebagian kaula muda malah ber-alay ria dengan menangis hanya karena masalah cinta.

Pemuda Pemudi Malang

Saya kasihan dengan sebagian anak muda yg sedang dimadu cinta. Pasang PP berduaan, sayang-sayangan dipublik, atau "status berpacaran" dipajang dengan bangga. Romantiskah ?

Kita memahami bahwa cinta adalah fitrah, tapi kita lupa... bahwa terkadang fitrah jua adalah ujian, dan kebanyakan tidak lulus saat mengerjakan ujian yg satu ini.

Dia bukan siapa-siapa kamu, jika memang cinta maka bijaklah. Jangan biarkan engkau dengan tanganmu sendiri menjerumuskannya kelembah kebodohan, kejurang kemaksiatan.

Satu lagi, realitasnya... Banyak pasangan muda yg bercerai karena terlalu sibuk berlebay ria. ia kurang faham, bahwa hidup tidak melulu berbicara masalah cinta.

Semoga kita tak termasuk pemuda-pemudi semalang itu